biji..

Kita ini seperti biji yang ditebar random di tanah sama Tuhan. Ada yg kebagian. di tanah subur, tanah gersang, tanah tandus, tanah basah.

Setiap biji punya fase hidup dan tumbuh yang sama. Yang sama-sama harus dialami. Namun, dalam kenyataannya, ada yang mati sebelum tumbuh, ada yang mati sebelum berbuah, ada yang tumbuh sempurna hingga berbunga bahkan hingga berbuah.
Pernah kah merenung, kenapa ya kita terlahir disini? di lingkungan ini? dikeluarga ini, di tempat seperti ini? Jawabannya, ya takdir. Kita gak bisa minta “ya Tuhan, nanti lahirkan aku di keluarga seperti kaya ya, lahirkan aku di lingkungan artis ya”. Ada hal-hal yang hanya dapat kita terima dan jalani.

Entah perjalanan itu akan berakhir baik, buruk, sedih, senang, itu sudah ketetapan-Nya. Kita hanya menjalaninya sebaik mungkin dari yang dapat kita lakukan secara maksimal. Perkara akhirnya seperti apa, urusan-Nya.

Bahkan masuk surga sekalipun itu atas dasar RahmatNya bukan timbangan kebaikan keburukan. Pahala dan dosa ditimbang sebagai pertanggungjawaban atas segala perbuatan.
Pernah gak bertanya pada diri sendiri, kenapa kita punya kelebihan ini? Kekurangan itu? Kenapa hidup kita struggle? Kenapa hidup kita mudah? Apa yang ingin Tuhan sampaikan pada kita? Peran kita sebagai apa di dunia ini? Sebagai healer? Leader? Server? Inovator? Warrior? Teacher? Joker? Peacemaker? Atau sebagai apa?
Pada akhirnya segala aktivitas, pencapaian, pekerjaan, profesi, populraitas, harta, tahta, semuanya hanya alat. Alat untuk mencapai life purpose dan goal. Dimana life purpose dan goal pun hanya sebuah alat untuk mencapai hakikat diri asli. Hakikat manusia untuk diuji. Ikhtiar dan ikhlas, berjuang dan melepaskan.
Kadang heran, kenapa masih ada aja yg ribut masalah receh duniawi (pilgub, perbedaan pendapat, harta, tahta, wanita) dikala ada misi besar di depan yang perlu segera diselesaikan dalam waktu terbatas. Selamat mengenal diri, menemukan petandaNya, mencari peran diri asli, dan selamat untuk sama-sama berjuang.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

(*) AKU DULU DAN SEKARANG(*)

Dulu …
Aku sangat KAGUM Þada manusia cerdas, kaya, dan yang berhasil dalam karir.
Hidup sukses & hebat dalam dunianya.

Sekarang …
Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan manusia yang hebat di mata-NYA,
Sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan bersahaja.

Dulu …
Aku memilih MARAH кetika merasa harga diriku dijatuhkan oleh orang lain yang berlaku kasar padaku dan menyakitiku dengan kalimat² sindiran.

Sekarang …
Aku memilih untuk BANYAK BERSABAR & MEMAAFKAN,
Karena aku yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan & bersabar.

Dulu …
Aku memilih MENGEJAR dunia & menumpuknya sebisaku,
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah makan & minum untuk hari ini.

Sekarang …
Aku memilih untuk BERSYUKUR & BERSYUKUR dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini, dengan apa yang bisa aku lakukan / perbuat dan bermanfaat untuk sesamaku.

Dulu …
Aku berpikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN orang tua, saudara dan teman²ku jika aku berhasil dengan duniaku,
Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu melainkan ucapan, sikap, tingkah dan sapaanku kepada mereka.

Sekarang …
Aku memilih untuk membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku.

Dulu …
Fokus pikiranku adalah membuat RENCANA² dahsyat untuk duniaku,
Ternyata aku menjumpai teman & saudara²ku begitu cepat menghadap kepadaNYA….

Sekarang …
yang menjadi fokus pikiran & rencanaku adalah bagaimana agar hidupku dapat berkenan di mata-Nya dan sesama jika suatu saat diriku dipanggil oleh-NYA.

• Τak ada yang dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati teriknya matahari besok.

• Τak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa aku masih bisa menghirup nafas esok hari.
Kalau hari ini & esok hari aku bisa hidup, itu adalah kehendak ALLAH SWT semata…

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Bahagia

Setelah bertahun tahun tinggal dan bekerja, si centong ini kadang sering mengeluh dengan betapa tidak bahagianya dia dengen pekerjaan yang menafkahi dirinya yang sudah hampir 14 tahun dikerjakannya ……Ada banyak pekerjaan yang jauh lebih “menggembirakan” yang pernah centong temui (orang-orangnya). Ada yang menjadi pilot dengan gaji yang sangat besar dan selalu berkeliling eropa secara gratis. Ada yang hanya dengan membuat resensi akan tempat, tempat wisata dan tempat makan di seluruh nusantara dan mendapatkan bayaran puluhan juta setiap bulannya. Apakah saya, atau anda, harus iri dengan pekerjaan menyenangkan semacam itu?

Ah, tidak. Santai saja. Jiwa gombal dan orang biasa seperti saya kadang tidak butuh uang banyak-banyak. Dan ternyata, masih banyak orang-orang  yang juga tidak terlalu peduli uang. Bukan karena kaya, justru karena warga menengah bawah, tapi masih bisa menikmati bahagia. Makin aneh dan “menggembirakan” pekerjaan seseorang , ternyata tidak membuat anda nyaman menjalani hidup. Justru seringkali malah sebaliknya.

Kadang semakin keras perjalanan hidup seseorang, ternyata justru membuat orang lebih sabar. Disinilah irasionalitas kehidupan yang sebenarnya. kehidupan metropolitan dan kapitalisme saat ini seolah menawarkan kemewahan yang amat sangat. Simbol-simbol semacam Altitude, dan sederet apapun yang ada di daerah bisnis, ternyata harus beriringan dengan kekerasan. Kekerasan untuk mencapainya. Banjir, Macet, dan kekerasan lainnya, yang membuat orang tiba-tiba menjadi gila dan (pe)marah. Semakin anda bekerja pada bidang atau bentuk kerja yang amat “menggembirakan”, makin panjang sumpah serapah anda melalui “kekerasan” untuk mencapai segala kemewahan (ala) kapitalisme tersebut.

Sebaliknya, makin anda keras bekerja karena pekerjaan anda menuntut semacam itu, makin anda santai menerima apapun “kekerasan” yang harus dilalui. Dan tragisnya, lucunya, orang-orang yang jauh lebih santai menghadapi banjir macet dan segala “kerasnya” kehidupan metropolitan ini, akan sangat santai pula menertawakan orang-orang yang bekerja “emnggembirakan” tadi. Itu, entah hukum karma atau apalah.

Saya bisa lebih menikmati hidup. Saya berusaha tidak selalu mengeluh. Menikmati saja problem-problem kehidupan. Jelas tidak semua orang bisa seperti pada titik yang saya jalani, “nrimo” terhadap keadaan. Saya pikir, bukan karena pekerjaan saya yang berat sebagai faktornya. Bukan sama sekali. Saya lebih suka memilih bahwa faktor lain yang membuat saya “nrimo”, karena saya merasa biasa biasa saja dan bukan orang hebat dan tidak ada yang di kejar dalam menjalani kehidupan ini.

maaf kalau tulisan yang gak jelas karena centong lagi pusing ….. ^_^

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

(Merasa) Miskin itu takdir atau pilihan?

 

Kebanyakan orang menyalahkan takdir, dan ini paham yang sungguh-sungguh berbahaya. Apabila saat ini dia miskin, susah, menderita, sengsara, tersiksa hidupnya maka yang paling gampang adalah menyalahkan takdir. Yang muncul adalah ucapan “Emang sudah takdirku hidup seperti ini!” Ujung-ujungnya orang ini akan menyalahkan sipembuat takdir nantinya, yaitu Allah SWT. Wah kalau sudah begini bisa-bisa di dunia sengsara di akherat … sengsara jilid II. Istilah kerennya sudahlah jatuh tertimpa tangga plus nyungsep di got wah Naudzubillah hi min dzalik …

Usut punya usut ternyata skenarionya sebenarnya tidak harus seperti ini. Ini ada saduran dari sebuah ayat Al Qur’an Surat An Najm 43:48 isinya kira-kira seperti ini:

Allah-lah yang menjadikan tertawa dan menangis
Allah-lah yang menjadikan kematian dan kehidupan
Allah-lah yang menjadikan laki-laki dan perempuan
Allah-lah yang memberikan kekayaan dan …………

Nah kira-kira apa jawaban yang titik-titik itu.
Pertama kalau dilihat dari contoh diatasnya sepertinya itu lawan kata.
Kedua lawan kata dari kekayaan adalah kemiskinan
Pastilah jawabannya : kemiskinan
Kira-kira benar begitu ya? Kemiskinan?
Wah tunggu dulu ternyata jawabannya salah! Karena yang benar adalah : kecukupan.
Jadi pada dasarnya Allah tidak pernah memberikan kemiskinan, yang diberikan adalah kekayaan dan kecukupan. Lantas kalau miskin darimana datangnya? Jelas itu salah manusianya! Sejak awal, Dia telah mempersiapkan manusia untuk untung, kaya, kuat, sehat, selamat, aman dan sejenisnya. Kalau terjadi yang sebaliknya , sekali lagi itu salah manusianya! Masih mau membantah dan menyanggah ? Baca dulu Surat An Nisa ayat 79, surat Yasin ayat 19, dan surat As Syura ayat 30. Intinya, segala kebaikan berasal dari Dia dan segala keburukan berasal dari manusia itu sendiri. Tidak ada satu ayatpun dan satu haditspun yang menganjurkan kemiskinan. Tidak ada.

Ada sebuah cerita unik yang bisa buat perenungan nih.
Ada seorang santri datang ke seorang ulama menanyakan kenapa banyak sekali orang yang sengsara dan menderita di bumi ini, kan katanya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Ulama bijak ini menjawab begini.
Dahulu kala waktu pertama kali Adam diciptakan Adam itu serba spesial perlakuannya. Malaikat disuruh sujud kepada Adam. Semua kebutuhan hidup terpenuhi di Syurga. Mau makan apa aja ada, baru muncul keinginan aja langsung ada didepan mata. Segala macam hidangan, pakaian dan tempat berteduh disediakan plus pendamping hidup Siti Hawa. Tidak ada kekurangan serba kecukupan, tidak ada kesulitan serba kemudahan. Jadi manusia sebenarnya mahluk yang paling dimanjakan oleh Allah. Lalu terjadilah skandal buah Khuldi yang menimpa nabi Adam, sehingga Allah menjadi murka. Nah ini adalah dosa pertama. Selanjutnya bisa ditebak Allah segera mendeportasi Adam ke Bumi karena kesalahan ini. Yang tadinya pengen ini ada pengen itu ada tidak perlu susah-susah, sekarang pengen buahan mesti metik dulu, pengen ikan musti nangkap dulu. Jadi lebih sulit. Lalu apakah manusia berhenti sampai situ berbuat dosa !? Oh ternyata tidak lebih banyak lagi dosa yang dibuat. Sehingga yang tadinya tinggal memetik sekarang harus menanam. Lebih sulit lagi. Ternyata semakin banyak manusia semakin banyak yang berbuat dosa. Yang tadinya makan bisa hasil dari menanam sekarang harus berhutang dulu. Istilah kerennya gali lobang tutup lobang. Lantas apa sudah berhenti sampai disitu, oh ternyata tidak sekarang sudah lebih edan lagi jadinya. Orang kalau mau hidup harus gali lobang tutup empang.Alias besar pasak dari pada tiang. Jadi mau sampai kapan ?

Intinya Allah memberikan dua jalan, jalan kebaikan dan jalan keburukan.
Jalan kebaikan (positive thingking) kalau istilah agamanya husnudzon (berprasangka baik). Kalau kita berprasangka baik, bahwa Allah akan memberikan kekayaan dan kebahagiaan untuk kita maka itulah yang akan kita dapat.
Jalan keburukan (negative thingking) kalau istilah agamanya suudzon (berprasangka buruk). Kalau kita berprasangka bahwa Allah memang membuat kita sengsara dan menderita maka itulah yang akan benar-benar terjadi.

Allah berfirman yang isinya:
Aku adalah seperti apa yang hambaku persangkakan

Jadi kesimpulannya Kemiskinan, kesengsaraan, kebahagiaan dan kekayaan bermula dari pikiran kita. Jadi kaya atau miskin adalah sebenarnya pilihan. Rumus ABCD bahwa Allah menciptakan manusia lewat proses kelahiran (birth) lalu diakhiri dengan kematian (Death). Nah C nya ini adalah pilihan hidup (Choice).
Kita mau kaya atau miskin kita yang tentukan.

It All Start From Your Mind

Disarikan dari:
Percepatan Rezeki dan Mengetahui Potensi Rezeki Dalam 2 Menit karya Ippho Santosa

 
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Nikmati Hidup – Jangan Kerja melulu!

Seberapa luas dunia yang anda ciptakan? Banyak orang hanya memiliki dunia seluas meja tulis.

Atau sepetak ruang kerjanya.Atau mungkin sebesar gedung kantornya saja.

Pandanglah keluar.

Tebarkan pandangan anda.

Carilah ujung cakrawala.

Nikmatilah cahaya matahari sore menemani perjalanan pulang anda ke rumah.

Dunia ini jauh lebih luas dari yang anda sangka.

Ruang yang tersedia bukan hanya antara rumah dan ruangan kerja anda.

Anda dianugrahi lautan,pegunungan.hutan,mata air dan berbagai keindahan alam yang lainnya.

Sadarilah bahwa semua ini tak kalah berharganya.

Karena itu,jangan sia-siakan waktu anda untuk tidak melebur dengan keindahan yang tiada tara.

Jangan ragu untuk meninggalkan sementara waktu kerja anda.

Esok masih ada.

Kecuali anda mau menyesal karena di saat pandangan anda telah lamur,anda baru tersadar akan keelokan alam ini.

Pekerjaan anda bisa menunggu.

Namun umur anda takkan kembali.

Waktu adalah anak panah yang melesat kencang.

Anda tak mungkin mampu menghentikan atau melambatkannya.

Selama waktu masih tersisa,tak perlu ragu untuk menikmati kehadiran anda di bumi ini.

Ketika anda menyadari betapa berharganya anda yang mungil ini di alam semestayang maha luas ini.

Kehadiran anda bagian alam ini.

Hiduplah penuh keseimbangan.

20120313-000407.jpg

Dipublikasi di Motivasi | Meninggalkan komentar

Cicilan Centong

Salah satu anugerah terbesar dalam hidup adalah diciptakannya sistem cicilan.
Inilah hukum yang amat tua di dalam proses penciptaan.

Inilah hukum yang kemudian diadposi oleh tukang kredit dalam memasarkan barang. Tanpa ada kemudahan mencicil, hidup tidak mungkin diselenggarakan.

Tidak ada bayi dewasa di kandungan karena bisa merepotkan proses kelahiran. Tidak ada pihak yang merangkak langsung berlari.

Alquran pun tidak diturunkan sebagai buku, tetapi ayat demi ayat, bagian demi bagian. Inilah yang kemudian oleh Albert Einstein disebut sebagai hakekat waktu. ‘’Alasan utama waktu diciptakan ialah agar segala sesuatu tidak terjadi bersamaan,’’ katanya.

Betapa berbahaya kebersamaan seperti itu. Di dunia ini tidak akan ada bank sang sanggup berdiri jika seluruh nasabahnya menarik dananya bersamaan, tidak cuma dalam hari yang sama tetapi juga jam yang sama dan harus dilayani oleh orang-orang yang sama pada saat itu juga. Sebuah bank baru bisa bekerja ketika ada sistem giliran, antrean, urutan dan putaran. Inilah inti dari cicilan.

Jadi, hidup ini berisi dari serangkaian cicilan demi cicilan. Saya tidak pernah berani membayangkan memiliki rumah pada awalnya. Itu dunia yang tak terjangkau untuk keadaan saya saat itu. Tapi hukum cicilan ternyata jauh lebih besar dari hukum bayangan. Cicilan itu mendatangkan kepada saya, soal-soal yang saya tidak berani membayangkan. Hukum itu pelan-pelan menyodorkan kepada saya perkenalan, persahabatan, pekerjaan, ujian, gaji, kenaikan, pertumbuhan, tabungan, kekuatan, keberanin dan kemampuan. Maka setiap menatap rumah saya di hari ini, saya seperti sedang menantap gunungan cicilan yang menakjubkan.

Hanya dengan cara mencicil itulah saya kuat mendapatkan apa yang saya tidak berani bayangkan. Walau pernyataan ini sebetulnya cuma setengah dari kebenaran kalau tak boleh disebut keliru. Kata ‘’mencicil’’ itu masih menempatkan saya sebagai pihak yang aktif dan yang mampu. Padahal sebetulnya, sayalah yang mestinya ditempatkan sebagai objek, sebagai si pasif dan tak mampu. Karena kekuatan saya cuma setahap-demi setahap itulah kenapa alam cuma bisa memberi saya tahapan. Tidak secara bersamaan pemberian itu dijatuhkan. Bahkan hujan saja, jika tidak dipecah dalam banyak rintikan, dan dikirim cuma menjadi satu gelontoran, kedatangannya pasti tak tertanggungkan.

Kini menjadi jelas, betapa watak buru-buru saya selama ini sangat berbahaya karena ia bertentangan dengan hukum cicilan. Kalau seluruh rezeki disampaikan hanya dalam satu termin saja, turun sekali di hari ini, saya pasti akan menjadi gila karena tak ada perangkat di dalam diri saya untuk kuat menampungnya. Begitu juga dengan sakit. Ia menyakiti saya sesakit-demi sesakit. Tidak seluruh atas sakit dijadikan satu. Pusing pun kini sudah mulai bijaksana dengan mau memakai sistem cicilan, yakni pusing sebelah, misalnya. Cuma sebelah saja begitu menyakitkan rasanya, apalagi kalau seluruhnya.

-di update dari HP nya si centong yg alhamdullilah cicilanya sudah lunas 🙂 –

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

It’s has been 10 Years and I still hate my job

Yups..saat menulis ini saya lagi merenung karena tepat nanti tgl 1 september 2011 adalah tahun ke 10 saya sudah bekerja…iya 10 Tahun yang lalu saya meninggalkan dunia sekolah dan mulai memasuki kerasnya dunia kerja.

Saya lulus kuliah di tahun 1999-2000 tepat di saat paling sulit buat para lulusan baru (fresh Graduate) dari universitas untuk mencari kerja, Dan ketika saat itu saya bisa mendapatkan pekerjaan, mestinya membuat saya meledak oleh kegembiraan. Tapi nyatanya tidak, tepatnya, tidak selalu.

Bukannya saya kurang bersyukur namun entah kenapa di setiap hari dari hari pertama saya mulai bekerja di saat duduk di meja kerja menghadap ke komputer, komputer itu malah saya bayangkan sebagai perampok waktu-waktu terbaik saya.

Daaaannnn.. setelah sepuluh tahun berlalu dari tanggal saya mulai bekerja tersebut saya masih merasakan perasaan yang sama…saya masih merasa “DIRAMPOK” iya..betul ekstrimnya saya merasa di rampok karena Saya jadi kehilangan kesempatan bersama anak/keluarga tepat ketika mereka membutuhkan. Ada kalanya ruang-ruang meeting di kantor itu seperti pengadilan tempat saya harus berkelit agar terbebas dari segala macam tuduhan.

Dari mana asalnya perasaan makin benci kepada pekerjaan ini? Dari rutinitas. Ketika segalanya telah menjadi rutin, yang tersisa hanyalah kebosanan kita kepada soal-soal yang selalu sama itu. Wajah-wajah yang sama, target-target yang sama dan suasana yang sama. Itulah kenapa harus  lahir keluhan ‘’I hate Monday,’’ itu. Karena setiap Senin, wajah yang sama itu kembali menampakkan diri.

Tetapi saya mencoba tetap menjadi WARAS dengan mencoba menciptakan kebenaran dan penghiburan bagi diri sendiri ..saya berusaha mengaggap kehadiran Senin yang kita benci itu ternyata adalah jalan untuk menuju Jumat.

Dan kepada jumat, kita terbiasa memekik: ‘’Thanks God, Its Friday!’’. Lalu mungkinkan kita memekik gembira kepada Jumat tanpa melewati kebencian kita kepada Senin. Mustahil. Jadi setiap jalan cinta itu sesungguhnya harus melewati jalan benci. Maka inilah saatnya mencintai benci karena hanya dengan melewatinya, kita akan ketemu cinta.

Bekerja memang menyakitkan, apalagi di tengah rasa bosan dan ujung yang tak pernah berkesudahan. Saat saya ini rampung di satu pekerjaan, pekerjaan baru  di depan sudah menanti.

Belum usai dari lelah pekerjaan ini, esok harus bekerja lagi. Pekerjaan lalu menyrupai gelombang yang selalu bergulung-gulung  tanpa ujung. Dan inilah watak gelombang, semakin dilawan, gelombang itu akan  semakin mengancam. Jika arusnya kita tentang, seluruhnya dari kita cuma akan ditelan. Watak inilah yang amat dipahami oleh para peselancar.

Dan ketika watak itu  sudah didamaikan, inilah  anehnya, peselancar yang kuat, malah membutuhkan gelombang yang lebih besar dan penuh gempuran. Kegembiraan mereka tergantung pada besarnya gempuran.

Jadi setiap pekerjaan itu menggempur kita, kepadanya kita diperintahkan untuk berselancar  menikmati sensasinya. Barulah terasa bahwa soal yang sebenar-benarnya rutin itu tidak ada. Setiap gelombang yang sama, selalu memuat unsur-unsur yang berbeda. Setiap air yang mengalir di sungai yang sama, selalu saja adalah air yang berbeda. Jalan yang kita lewati dari rumah ke kantor, mungkin tampak itu-itu saja. Tetapi ia adalah jalan  dengan kemungkinan yang berbeda. Kemarin tak ada mobil yang gembos di situ, sekarang ada. Dan si gembos itu adalah teman yang kita harus menolongnya. Karena si gembos terkesan  lalu kepada Anda datang tawaran yang mengubah hidup Anda selamanya.

Di kantor, kita selalu saja ketemu dengan orang-orang yang sama, tetapi sesungguhnya, ia adalah orang telah menjadi berbeda dibanding kemarin. Setidaknya usianya telah bertambah sehari. Jangan remehkan pertambahan usia ini. Jangan-jangan ia telah menjadi manusia yang lebih matang. Dari seorang yang kemarin menjengkelkan, hari ini,  ia bisa jadi telah bersiap menjadi teman terbaik Anda. Rasa sakit di balik rutinitas itu, ternyata cuma jalan menuju sehat. Maka sakitlah dengan gembira.

Jakarta 8 Agustus 2011.

“dari Meja si Centong yang lagi BOSAN setengah mati pada pekerjaannya!”

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar